Friday, January 18, 2013

PENGALAMAN DIET YANG TIDAK BOLEH DITIRU

Mungkin, sekitar 10 tahun yang lalu, saya diajak ibu yang ingin menurunkan berat badan (BB) ke seorang ahli tusuk jarum. Sampai di sana, saya ikutan 'di tusuk'. Sebelum 'di tusuk', BB saya ditimbang. Setelah di tusuk, sewaktu mau pulang, kami dibekali obat yang banyak jumlahnya dan daftar makanan yang boleh kami makan (listnya lumayan panjang). Tiga hari pertama, kami diharuskan melakukan 'detoks' (hanya boleh makan sop sayuran dan buah).  Kalau tidak salah, makanan yang di pantang: nasi, mie, roti. Kentang hanya boleh 2 buah yang kecil itupun di rebus.  Tahu, tempe, ikan (seumber protein nabati dan hewani) hanya boleh di bakar atau kukus. Kalau tidak salah ingat, kami harus kembali tiap minggu.
Setiap datang dan proses penimbangan adalah waktunya deg-degan. Turun nggak ya? Soalnya, kalau tidak turun, si ahli akan kecewa dan mulai tanya-tanya makan apa aja sampai tidak turun. Dari proses penurunan BB ini, yang paling tidak menyenangkan adalah..... buang air besar (BAB) setiap kali habis makan (buah maupun makanan sumber makronutrien). Sebetulnya, saat itu yang terjadi adalah tubuh kehilangan cairan yang banyak (dehidrasi). Untungnya (masih untung juga) saat melakukan diet itu, saya ikut program olah raga di salah satu televisi swasta. Hasilnya, kulit saya tidak 'kendor' walaupun diet mati-matian.
Hasil 3 bulan ikut program itu, BB saya turun 18 kg. Setiap orang bilang wah.. hebat. Iya, dalam bentuk angka hebat. Tapi, yang tidak saya perhatikan adalah tubuh saya kehilangan buanyaak mikronutrien. Ini terjadi saat mau ujian Farmokologi, setelah semalaman menghafalkan bahan ujian, ketika ditanya (ujiannya comprehensive) dosen, blank. Aduuuuuh. Akhirnya saya konsul ke dokter SpGK (spesialis Gizi Klinik yang notabene dosen sendiri). Beliau sempat 'bingung' dengan pola makan saya. Kalau mau dikurangi, sudah tidak mungkin lagi. Akhirnya, saya di kasih vitamin yang mengandung Zn. Lumayan... setelah minum sebulan gitu deeeh... memory mulai bisa diandalkan.
Itu hanya sebagian kecil dari efek diet nggak terkontrol. Efek lain, saya sempat merasakan lidah seperti makan 'karat besi'. Akhirnya, konsul lagi sama dokter.. kesimpulan: defisiensi (kekurangan) vitamin B. Duuuhhh.. efek nggk makan nasi 3 tahun.
Sebetulnya, banyaaakkk mineral di tubuh saya yang hilang. Sayang, untuk periksa laboratorium harganya mahal. Karena itu, kalau mau diet, benar-benar di awasi dokter deeeeh... Jangan sembarangan. Apalagi remaja yang sedang bertumbuh. Bisa kacau tuuh metabolisme tubuhnya. Bila maksud hati ingin terlihat langsing, lakukanlah dengan cara yang baik dan benar, tanpa harus kehilangan banyak vitamin dan mineral.

Thursday, January 10, 2013

ORANG TUA
Setiap orang yang diizinkan ALLAH untuk sampai usia 60 tahun, akan merasakan menjadi tua. Dimana anggota gerak mulai terasa kaku, kulit mulai keriput dan organ-organ dalam tubuh sudah bertambah 'haus'. Saat ini, kelompok orang tua masuk dalam kategori lansia. Bila lansia sakit, tempat yang 'pas' untuk berobat maupun konsultasi tentang penyakit maupun keluhan lainnya adalah poliklinik terpadu Geriatri. Saat ini, yang saya tahu, Poliklinik terpadu Geriatri ada di RSUPN Cipto Mangunkusumo. 
GIZI (Nutrition)
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat gizi yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. (I D Nyoman Supariasa, Bachyar Bakri, Ibnu Fajar, Penilaian status gizi, 2002).

Zaman dahulu, banyak pendapat yang beranggapan bahwa semakin 'subur' badan seseorang, maka semakin makmurlah hidupnya. Saat ini, pendapat seperti itu sudah tidak dapat dipakai lagi. Sekarang, banyak orang berbondong-bondong ingin menjadi lebih baik penampilannya. Banyak cara ditempuh untuk melaksanakan hal tersebut. Mulai dari mengikuti diet ketat (hanya makan makanan tertentu), diet plus olah raga sampai program pelangsingan dengan cara 'kilat'.

Berbagai cara penurunan berat badan (BB) tersebut sah-sah saja dilakukan, selama ada di pantau oleh dokter yang kompeten dalam hal ini (dokter Spesialis Kedokteran Olah raga atau dokter Spesialis Gizi Klinik). Kenapa perlu pemantauan dari para pakar? karena ketika diet sebenarnya kita sedang 'memaksa' tubuh untuk menjadi lebih sehat. Pemangkasan jumlah asupan, dari yang biasa makan 2000 kalori sehari, jadi 1500 kalori sehari, bukan hal yang mudah. Dan hal ini sebaiknya tidak dilakukan dengan hanya makan buah, daging atau sayuran saja. Karena sesungguhnya tubuh kita butuh karbohidrat, protein dan lemak (makronutrien) dan vitamin serta mineral (mikronutrien) dalam jumlah cukup, sehingga tubuh dapat melakukan fungsinya dengan baik. Kalau pola makan sudah 'dibetulkan', jangan lupa olah raga yang cukup (3xseminggu @45 menit) guna mengencangkan otot-otot.